Kali ini saya pengen membagi kisah tentang betapa beruntungnya kita saat diberi kesepatan oleh Allah untuk hidup di lingkungan akademik, akademisi. Betapa beruntungnya kita (saat ini) berhabitat di kampus, sebuah suaka keilmuan. Akademisi pada hakikatnya adalah majelis ilmu, sekumpulan para penuntut ilmu. Dan sejauh yang saya ketahui, begitu banyak keutamaan golongan ini. Salah satu di antaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi dari Abu Darda’ yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًالِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِوَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّالْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, niscaya Allah subhanahu wata’ala menyediakan jalan untuknya menuju surga. Sesungguhnya para malaikat melebarkan sayapnya karena ridha kepada orang yang menuntut ilmu. Sesungguhnya ulama dimintakan ampun oleh makhluk yang berada di langit dan di bumi sampai paus yang di dalam laut. Keutamaan seorang alim atas seorang abidseperti keutamaan bulan atas segala bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.”
Lihatlah begitu mulianya golongan berilmu dan penuntut ilmu (dalam istilah FK mungkin Guru/Dosen dan mahasiswa) yang termaktub dalam hadits tsb. Allah, malaikat dan seluruh makhluk di langit dan bumi ridho kepadanya. Dari hadits ini juga tampak keutamaan bagi dua golongan, yaitu para penuntut ilmu dan para ulama (orang yang berilmu). Pada penuntut ilmu, Allah meridhoi jalannya dan membuka jalannya menuju surga, balasan atas usahanya belajar. Malaikat bahkan membentangkan sayapnya untuk dia berjalan di atasnya menuju majelis ta’lim, tempat ia menuntut ilmu. Majelis ta’lim ini bisa di mana saja, ruang tutorial, ruang kuliah, taman medika, atau mungkin masjid ibnu sina (kalo kita ngobrolin hal2 yang merupakan bagian dari menuntut ilmu). Untuk golongan kedua, para ulama bahkan Rasulullah memberinya gelar yang mulia yaitu pewaris para nabi. Sebagai bentuk keutamaan dan apresiasi atas perannya yang begitu penting. Karena hakikat dari guru/ulama ini adalah menyampaikan ilmunya, mewariskan ilmunya kepada generasi berikutnya. Ilmu inilah yang akan membentuk generasi berikutnya yang lebih baik, lebih mulia, dan itulah salah satu ciri ilmu yang barokah. Membawa kebaikan yang terus menerus.
Sebagai penuntut ilmu
Sebagai penuntut ilmu alias mahasiswa, saya masih inget betul pertama kali saya dianggap sebagai golongan ini (tahun 2004, jaman saya masih muda.. hehe..). Saat itu salah satu guru saya mengingatkan, jika suatu saat kamu lelah atau merasa jenuh dengan belajarmu maka ingatlah betapa banyak anak seumurmu di luar sana yang bermimpi menjadi sepertimu. Berada disini berpredikat sebagai mahasiswa kedokteran. Pastilah Allah memiliki maksud yang baik mengapa Dia memilihmu, bukan ribuan yang lain yang tidak ada disini. Kalimat ini menjadi bagian dari kalimat yang ampuh memotivasi saya di saat2 jenuh, atau merasa sangat jatuh. Maka bagian penting dari penuntut ilmu adalah menumbuhkan motivasi. Carilah seribu alasan untuk kita terus belajar. Itu bisa apa saja, kita bisa mengingat perjuangan keras kedua orang tua kita untuk menyekolahkan kita. Bagaimana beliau bangun di pagi hari, saat kita masih terlelap, tidak hanya menyiapkan nafkah dan materi bagi kita tetapi juga kasih sayang dan pengharapan hingga sekarang. Atau kita bisa mengingat bagaimana kerasnya kita belajar untuk bisa lulus SNMPTN misalnya. Atau apapun itu selama itu adalah motivasi yang baik, dan sebaik-baik motivasi pada akhirnya adalah mendapatkan Ridho Allah SWT. Maka luruskanlah niat, kuatkan motivasi kita.
Tentunya perjalanan penuntut ilmu ini tidak semulus jalan tol, nggak selembut bakpao (jayus ah, hehee...). Banyak tantangan, banyak cobaan di depannya. Tapi itulah hakikat dari perjuangan menuntut ilmu. Tidak perlu banyak mengeluh, anggep aja sebagian dari ujian ini akan menambah perjuangan menuntut ilmu dan menjadi bagian dari ibadah. Kalo tentamen itu misalnya dianggap sulit, tidak perlulah mengeluh karena sulitnya. Dinikmati aja, kalo nggak sulit ga ada seninya mungkin,hehee... Bisa jadi kesulitan itu sebenernya juga karena mindset kita yang menganggap sulit, dan semakin besar karena kita semakin mengeluh. Pastinya bersama kesulitan itu ada kemudahan, dan buktinya dulu2 pun saat jaman kurikulum belum berbasis kompetensi semua dokter UGM itu juga pernah tentamen (tentunya dengan kebijakan dan ujian yang lebih horor), dan mereka bisa melaluinya dengan baik. Maka yang kedua adalah jangan mudah mengeluh.
Kemudian kalo kita ingat dan niatkan perjalanan menuntut ilmu ini sebagai ibadah maka ingatlah beberapa adab menuntut ilmu. Kira-kira pantas gak kalo orang beribadah dengan pakaian yang kurang sopan misalnya. Ke kampus misalnya pake pakaian kaya ke mall (atau kostum dugem, masya Allah), aurat dimana2. Bisa jadi itu penghalang disampaikannya ilmu kepada kita. Sebenarnya kita pantas bersyukur, karena budaya ketimuran kita memfasilitasi kita untuk lebih santun dalam berpakaian dan bersikap. Tapi di atas dari semua itu agama sesungguhnya sudah mengatur kehidupan dengan begitu agung. Karena sebenernya agama itu adalah aturan hidup di dunia, bukan aturan hidup di akhirat. Maka hiasi setiap kehidupan akademik kita dengan warna yang Islami, sebagai bagian dari adab menuntut ilmu.
Bagian dari hadits tersebut di atas juga mengisyaratkan keutamaan para ulama (termasuk di antaranya adalah guru-guru kita). Menghormati mereka adalah bagian dari adab menuntut ilmu. Rendah hati dan menghormati guru kita sebagai orang yang berilmu. Hormatilah secara proporsional saja, sebagai bentuk penghormatan misalnya dengan tersenyum saat bertemu, menyapa dan berucap salam. Dulu jaman saya masih SD ada kebiasaan yang sekarang mungkin sudah jarang ditemui, saat guru kita ‘rawuh’ semua anak tanpa ada yang mengkomando langsung menyerbu untuk segera menyapa dan mencium tangan beliau. Meskipun metode ini tampaknya kurang feasible untuk diaplikasikan di kampus, tetapi bentuk menghormati guru tetap bisa dilakukan dengan cara yang lain.Maka selalu hormatilah guru kita.
Yang terakhir mungkin saya ingin mengingatkan diri sendiri adalah untuk tetap rendah hati, kepada siapapun, termasuk kepada ilmu itu sendiri. Rendah hati terhadap ilmu berarti tidak merasa cukup dan sombong atas ilmu yang sementara ini sudah Allah berikan. Karena dengan merasa tinggi hati akan hilanglah rasa ingin tahu. Padahal curiousity adalah kunci ilmu pengetahuan. Ga akan ada hukum newton kalo Isaac Newton tidak ingin tahu kenapa apel itu jatuh kebawah, misalnya. Rendah hati kepada ilmu juga akan mengantarkan kepada motivasi dan konsistensi menuntut ilmu. Saya pernah miris saat suatu ketika menemui kelas skills lab hanya dihadiri oleh 4 orang dari 10 mahasiswa di grup itu. Yang menjadikan miris waktu itu adalah bukan karena kejadian itu sebagai insiden, tetapi merupakan tren karena saya menemuinya beberapa kali. Padahal saya yakin dari 6 anak yang tidak hadir itu tidak satupun yang punya fasilitas gedung skills lab lengkap dengan alat dan instrukturnya. Dengan kata lain, seandainya mereka merendahkan hatinya dan datang ke majlis ta’lim skilleb (wah istilah baru ni,hehee...) mereka bakal mendapatkan sesuatu yang berguna. Adult learner sebenarnya bukan alasan untuk tidak menghadiri kegiatan akademik yang dijadwalkan. Lebih dari itu adult learner harusnya mengambil pelajaran lebih dari yang dijadwalkan, di luar jadwal akademiknya. Maka yang terakhir adalah ikhlaskanlah diri kita untuk mau diajar, rendah hati dan bersiap untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Karena saya yakin, guru-guru kita itupun telah mengikhlaskan hatinya untuk mau mengajar kita dengan baik.
Sementara ini dulu yang ingin saya bagikan, semoga saya yang sekarang juga lagi jadi penuntut ilmu teringat untuk lebih oke lagi sebagai penuntut ilmu.. Kalo ada kesempatan mungkin akan ada berbagi pengalaman tentang keutamaan sebagai guru, hehe...
Rabbi zidni ‘ilman war zuqni fahman
“Ya Rabb tambahkanlah ilmu (kepadaku) dan Rizqikanlah pemahaman”
Dalam kitab Ibnu Abdil Barr, yang dimaksud dengan alim adalah golongan berilmu, yang lebih banyak benarnya daripada salahnya. Kalo mengingat hal ini maka tentu saja sebagai guru tetaplah Ia belajar, biar apa yang ia ucapkan lebih banyak benarnya. Tentunya apa yang ia pelajari akan lebih banyak dari yang sang murid pelajari, karena ibarat mata air ia akan mengalirkan airnya ke sungai-sungai. Maka bagaimana mungkin bisa mengalirkan air ke sungai2 kalo ia tidak lagi memperkaya dengan mata air ilmu. Sebagian dari keutamaan para ulama sudah termaktub dalam keutamaan penuntut ilmu karena para ulama sejatinya juga penuntut ilmu, juga selalu menuntut ilmu dan lalu membagikan apa yang ia ketahui.
sebagian ulama memisahkan antara meuntut ilmu agama dan ilmu umum. tetapi keduanya tetap wajib hukumnya bagi orang muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar